Example floating
Example floating
BeritaNasional

Gerakan Mahasiswa “Moral Force”

70
×

Gerakan Mahasiswa “Moral Force”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Penulis : Ahmad Basri K3PP Tubaba

Tidak salah menempatkan Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan Makassar sebagai barometer gerakan mahasiswa nasional.

Jakarta menjadi pusat perlawanan karena berdekatan dengan pusat kekuasaan. Jogja melahirkan gerakan dengan basis intelektual dan kultural. Bandung terkenal sebagai tempat lahirnya ide-ide kritis. Surabaya kuat karena energi sosial yang bersinggungan dengan kelas pekerja. Makassar menjadi simbol perlawanan dari Timur, dengan militansi yang tinggi.

Di kota-kota ini ribuan mahasiswa bernaung dengan puluhan bahkan ratusan kampus berdiri.

Sejarah membuktikan bila mahasiswa dari kota – kota ini sudah bersuara dan bergerak serentak dampaknya tidak hanya terasa di ruang lokal tetapi menggema hingga ke seluruh penjuru tanah air.

Gerakan mahasiswa selalu menjadi cermin keresahan rakyat. Mereka dianggap sebagai “moral force” kekuatan moral yang hadir bukan karena kepentingan politik praktis melainkan karena kegelisahan atas ketidakadilan.

Sejarah mengajarkan bahwa mahasiswa hanya akan benar-benar kuat ketika mereka mampu bersatu dengan elemen masyarakat lain seperti buruh, tani, kaum miskin kota hingga organisasi masyarakat sipil lainnya.

Sebaliknya jika gerakan mahasiswa berjalan sendirian tanpa melibatkan elemen lainnya dipastikan mudah melempem mudah dipatahkan dan hanya menjadi aksi simbolik yang cepat padam.

Pada titik inilah berhasil “menjinakkan” gerakan mahasiswa bukan dengan jalan represif gas air mata. Cukup dengan senyum manis pejabat, undangan dialog, duduk lesehan bersama.

Kemenangan ada ditangan pejabat bukan di mahasiswa. Sang pejabat tampil sebagai pahlawan sementara tuntutan mahasiswa menguap tanpa hasil. Hanya janji manis sang pejabat.

Inilah salah satu kelemahan mendasar gerakan mahasiswa. Sering berhenti di ruang simbolis, mudah dibelokkan dan gagal menjelma sebagai kekuatan historis.

Padahal jika kita menengok ke belakang gerakan mahasiswa yang berhasil mengguncang negara pemerintah selalu beraliansi dengan elemen rakyat.

Reformasi 98 contoh paling jelas. Mahasiswa menjadi lokomotif tetapi tanpa dukungan masyarakat luas, buruh, aktivis LSM, tokoh agama, hingga media dipastikan rezim Soeharto tak mungkin runtuh.

Kini tantangan gerakan mahasiswa bertambah rumit. Di satu sisi media sosial memberi ruang baru untuk mobilisasi massa tetapi di sisi lain justru menjerumuskan pada gerakan instan. Cepat viral namun cepat padam.

Banyak aksi mahasiswa yang heboh sehari lalu hilang tanpa bekas keesokan harinya. Oleh karena gerakan mahasiswa dituntut merumuskan agenda politik rakyat yang nyata. Serta membangun aliansi dengan kekuatan sosial lain dan menjaga jarak dari kooptasi kekuasaan.

Sebab jika tidak sejarah akan menempatkan gerakan mahasiswa hanya sebagai “api kecil” yang mudah dipadamkan dengan seember air senyum pejabat. Heroisme itu akan berubah menjadi ironi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *